Wisata Budaya : "Tjoe Hwie Kiong, Monumen Kerja Sama dan Perlawanan."
TOURISM
Senja merayap pelan dan cahaya keemasan di ufuk barat menyinari genting tua Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Eyang Sutinah berdiri bersama Indah, Bawono, dan Linda memandang ke bangunan abad 17 ini.
Indah, mengamati ukiran kayu jati di pilar: "Eyang, ini bukan cuma bangunan untuk ibadah. Ini perpaduan dua budaya. Lihat, atapnya gaya Fujian, Tiongkok, tapi bentuk dasarnya rumah Joglo Jawa pesisiran. Ini seperti dialog antar budaya yang dibekukan jadi kayu dan genteng."
Eyang Sutinah, tersenyum: "iya, di Lasem dahulu, masyarakat bersatu harmonis. Mereka tak sibuk korek-korek perbedaan. Mereka asyik menikmati hidup bersama dalam ketidak samaan mereka."
Bawono membuka tabletnya: "Lihat nih, Lasem tak lahir dalam damai. Tahun 1740-an, ketika Geger Pacinan mengguncang Jawa, Lasem adalah benteng perlawanan: warga Tionghoa dan Jawa, bareng, ngumpulkan dana, logistik, dan keberanian mereka!"
"Lasem adalah salah satu basis perlawanan terkuat melawan VOC, di mana Raden Mas Garendi (Sunan Kuning) merupakan figur sentral, yang didukung jaringan pemuka Jawa dan komunitas Tionghoa, yang berdiri tegak di sisi Sunan Kuning berjuang melawan VOC."
Linda menurunkan kameranya, melihat Klenteng dengan tatapan berbeda: "Jadi tembok klenteng ini saksi sejarah kerja sama dan strategi perjuangan rakyat Lasem, bukan sekedar tempat doa dan dupa!"
Bawono mengangguk: "Tradisi lisan setempat menyebut tokoh-tokoh perjuangan Tionghwa seperti Oey Ing Kiat, Kapten Tak Khe, dan Tan Kee Wie, yang tak pernah disebut-sebut dalam arsip sejarah Belanda. Tapi dalam ingatan dan hati keluarga Lasem nama-nama itu tetap hidup dan dihormati di klenteng ini."
Saat mereka berjalan ke mengelilingi klenteng, Eyang Sutinah berbisik: "Klenteng ini dulu ruang publik. Anak-anak belajar, warga bersama mengambil air dari sumur, dan para pejuang bersembunyi. Ventilasinya dirancang udara tetap segar. Klenteng ini sudah menerapkan arsitektur ramah lingkungan, meski dulu orang belum mengenal istilah itu."
Linda menatap Indah: "Apa musuh terbesar klenteng ini?"
Indah: "Ah, musuhnya bukan rayap atau usia tua, tapi amnesia.
Kita suka lupa Lasem adalah bukti sejarah leluhur kita pernah membangun masyarakat multikultural, Tionghwa, Buddha, Kong Hu Cu - Jawa, Islam, yang berani bahu membahu, berjuang melawan ketidak-adilan dan penjajahan Belanda."
Eyang Sutinah memandangi klenteng itu: "Klenteng ini saksi sejarah kepahlawanan dalam diam. Ia bertahan dari api perang, aneka gejolak pergantian zaman dan kepemimpinan di Indonesia."
"Dan kalian datang hanya untuk motret, selfi-selfi? Atau mau belajar memahami, dan jadi pencerita kisah-kisah di kayu tua ini ke masyarakat Indonesia yang majemuk?"
Di bawah atap Klenteng Tjoe Hwie Kiong, mereka semua terdiam, sadar, sejak saat itu, mereka tak lagi hanya melihat, mereka harus menjaga: Harmony in Diversity.
Eyang Sutinah: "Inilah Indonesia yang sebenarnya yang harus dilihat insan anggota P3I dan Rotary: Bhinekka Tunggal Ika, Gotong Royong, Anggarda Paramita."
"Bersatu dalam perbedaan, berjuang menuju kebajikan utama, perbedaan latar belakang, budaya, atau keyakinan tak jadi penghalang jika ada niat bersama untuk menciptakan harmoni."
"Justru dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh keragaman, nilai ini jadi panduan agar perbedaan tak jadi pemecah, tapi bahan bakar bersama untuk menciptakan harmoni dan kemajuan INDONESIA DAMAI DAN SEJAHTERA."
Bawono teriak nyaring : "Indonesia adalah mozaik keindahan, yang tercipta dari ribuan kepingan yang berbeda-beda, di seluruh Nusantara, tapi disatukan oleh tujuan yang sama: masyarakat Indonesia yang lebih kuat, adil, bermartabat, dan bermanfaat."
Eyang Sutinah, tersenyum: "Sekarang, siapa mau ke Lasem tanggal 10 - 12 Februari 26? Ayo bersama Ko Anton dolan ke Lasem!”
"Ingat, jangan hanya TAU sejarah, tapi juga harus MAU ke sana. Buktikan dengan mata telinga sendiri, dan cicipi kuliner asli Lasem dengan lidah sendiri."
Penulis: Keliek J. Soegiarto (Ketua Bidang Pengembangan P3I)