Trip Ke Lasem, Menyusuri Ruang Waktu Toleransi
TOURISM
Rembang, Jawa Tengah, Tak ingin melewatkan momen awal Tahun tanpa makna, Di awal tahun 2026, Perkumpulan Pecinta Pariwisata Indonesia (P3I) langsung menggelar trip perdana untuk anggotanya. Kali ini, pilihan destinasi jatuh ke Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Lasem adalah sebuah kecamatan yang kerap dijuluki "Tiongkok Kecil" (Little China) karena sejarahnya menjadi salah satu titik pendaratan awal orang Tionghoa di Jawa.
Kota ini terkenal dengan warisan budaya, akulturasi Tionghoa-Jawa-Islam, bangunan kolonial tua, serta batik tulis bermotif berani yang khas, seperti motif pesisiran. "Kita ingin merasakan dan mempelajari nilai-nilai tradisi dan toleransi yang terbangun di Indonesia sejak lama," ujar Jeffry Yunus, ketua umum P3I.
Beberapa situs di Lasem menjadi lokasi kunjungan rombongan yang dalam trip kali ini memakan waktu tiga hari dua malam. Tak kurang dari 35 peserta ikut serta dalam trip kali ini.
Mereka berasal dari Jakarta, Semarang hingga Jogjakarta. Selain Rumah Merah, Klenteng Cu An Kiong dan Pantai Binangun, para peserta yang sebagian besar anggota P3I juga mengunjungi Pondok Pesantren Kauman dan sejumlah situs penyebaran Islam di Lasem.
Turut serta dalam rombongan Dewan Pembina P3I, Lisa Ayodhia, Wakil Ketua Umum P3I Sulaiman Ismail dan Bendahara Umum P3I Darma Azwan serta sejumlah pengurus P3I lainnya.
Untuk mengetahui suasana menikmat perjalanan P3I di Lasem, berikut catatan akhir dari perjalanan mengesankan ke Lasem yang dituliskan ketua bidang Pengembangan P3I Keliek J. Soegiarto berjudul : "Lasem: Ruang Waktu di Pesisir Utara Jawa"
Lasem adalah kecamatan kecil di jalur Pantura, tapi ia adalah lorong waktu: tempat dakwah, dagang, migrasi, dan karya senyap kemanusiaan yang bergelut sejak tiga abad silam.
Di kota ini gema para wali, jejak perjalanan maritim, dan kasih lintas iman bertemu dalam kesenyapan yang lantang makna.
Pada hari ke tiga, kita menyusuri Lasem, dari sisi yang lain: Dari tanah dakwah, pesisir laut, hingga omah kemanusiaan yang menolak lupa pada nilai-nilai universal: Toleransi!
Perjalanan batin ini berawal dari sebuah pertanyaan mendasar: Bagaimana agama dapat diterima tanpa paksaan?
Jawabannya adalah Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, salah satu Wali Songo. Ia lahir pertengahan abad 15 dan putra Sunan Ampel.
Ia adalah ulama yang menggunakan pendekatan kultural dalam dakwah, memanfaatkan seni musik gamelan (bonang) dan tembang-tembang bernuansa sufistik, yang secara tradisi lisan dikaitkan dengan ajaran moral seperti Tombo Ati. Inilah kenapa beliau dinamai Sunan Bonang!
Dan inilah strategi dakwah Wali Songo: mengislamkan nilai, bukan memusnahkan budaya yang sudah ada. Dari sini kita belajar: agama tak selalu datang dengan kekerasan. Kadang ia masuk lewat getaran nada, dialog batin, dan keteladanan.
Nah sekarang di sinilah inti cerita Toleransi.
Perjalanan berlanjut ke sebuah situs yang diselimuti sejarah dan legenda: Makam Putri Cempa.
Dalam tradisi lokal, Putri Cempa dikaitkan dengan sosok perempuan bangsawan dari Champa, Tiongkok Selatan, yang punya hubungan kekerabatan dengan tokoh Majapahit masa itu. Namanya Bi Nang Ti muncul dalam narasi tutur masyarakat Lasem, meski detail identitasnya masih jadi perdebatan.
Namun satu hal tak terbantahkan: Lasem sejak abad 15 telah jadi titik temu peradaban Jawa dan Tionghoa, titik kumpul toleransi Islam Buddha, Kong Hu Cu.
Makam ini Putri Cempa jadi simbol bahwa interaksi lintas budaya, bahkan lintas iman, telah mengakar jauh sebelum konsep toleransi modern diperkenalkan.
Lasem mengajarkan identitas Nusantara lahir dari perjumpaan dan keberagaman, bukan pemurnian dan keseragaman.
Nah, setelah menyusuri sejarah, kini saatnya menikmati goyang lidah bersama: makan bersama.
Di Joglo Karuna, kuliner laut Lasem yang beraroma arsitektur tradisional Jawa, Ikan segar, cumi, dan hasil tangkapan nelayan lokal disajikan apa adanya: jujur pada rasa dan asal-usulnya: Lasem.
Nama Karuna, yang berarti kasih sayang, jadi roh tempat ini. Joglo ini tak sekadar ruang makan, tapi ruang ingatan tentang Lasem tempo dulu, tentang hidup yang bersahaja, dan tentang penghormatan pada laut sebagai sumber kehidupan.
Di sini kita diingatkan bahwa kebudayaan tak hanya diwariskan lewat buku, tapi juga lewat meja makan dan kebersamaan dalam keberagaman.
Dan ini yang sering kita abaikan. Lasem adalah kota maritim. Garis pantainya tampak tenang, namun menyimpan lapisan sejarah yang dalam.
Apakah selama perjalanan kita menyimak dan memperhatikan?
▪ Pantai Indah Layur, ruang rekreasi warga, tempat laut jadi sahabat keluarga.
▪ Pantai Binangun: sering disebut sebagai lokasi pendaratan tokoh-tokoh penting masa lalu, seperti Sultan Mahmud, dalam memori kolektif masyarakat, walau belum jadi fakta sejarah.
▪ Pantai Caruban dan Dasun: kawasan mangrove yang jadi penyangga ekologi sekaligus saksi ketangguhan hidup nelayan pesisir.
Mereka mengajarkan bahwa sejarah tak selalu tertulis di prasasti, dia bisa hidup dalam cerita para nelayan yang bertahan hidup dari ombak ke ombak.
Nah, puncak perjalanan Lasem justru hadir dalam sebuah bangunan di Jl. Raya Lasem No. 105, yang dikenal sebagai Rumah Gajah, rumah di mana Iman Bertemu Kemanusiaan.
Bangunan ini kini jadi Panti Asuhan Marganingsih, dikelola Suster SND (Soeurs de Notre Dame). Secara historis, rumah ini pernah dumah ini pernah dimiliki keluarga Tionghoa Lasem dan dialih-fungsikan melalui kerja sama yayasan filantropi menjadi ruang pengabdian sosial.
Yang membuat istimewa bukan arsitekturnya, yang kokoh legendaris, bukan patung gajahnya yang besar berwibawa, tetapi ekosistem kemanusiaan di dalamnya:
anak-anak dari Papua, Tomor, Floores, NTT, dan Jawa bercampur dirawat dengan penuh kasih, tanpa pernah dipersoalkan latar suku, agama, maupun asal-usulnya.
Inilah inti ceritanya:
Lasem bercerita bahwa cinta tidak butuh keseragaman.
Ia hanya butuh keberanian untuk merawat sesama, dalam keberagaman suku dan iman.
Lasem bukan destinasi yang mengejar sensasi visual, atau tempat memuaskan lidah semata. Ia membuktikan perjalanan reflektif: tentang sejarah, keberagaman, dan tanggung jawab sosial selama berabad-abad dan tak kenal akhir.
Lasem menantang kita dengan pertanyaan yang sederhana namun mendasar:
▪ Sudahkah kita memahami nilai filosofis perjalanan ini?
▪ Sudahkah kita benar-benar hidup berdampingan, dalam hidup kita sehari-hari tanpa sekat keseragaman?
Di Lasem, Mini Indonesia ini, toleransi bukan slogan. Ia praktik hidup yang telah berlangsung berabad-abad.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar Lasem untuk Indonesia hari ini.
Siapkah kIta hidup dalam TOLERANSI?
LASEM TUR BUDAYA is not the end of a P3I Tour.
It is the begining of a new era, new Indonesia: A Country of Tolerance.